Selasa, 17 Maret 2015

Fanfiction One Ok Rock a Pathetic Girl with a Stubborn Boys Chapter XIV




Aku mencoba tersenyum pada lelaki itu, namun tampaknya api amarah masih berkobar dalam matanya. Ia sama sekali tak menampakkan wajah ramah dan bersahabat dan masih bertahan dengan wajah angkuh serta arogan yang tak pernah ia tampakkan sebelumnya. Meski begitu sorot mata yang tajam bak elang masih tetap mengarah padaku. Pun saat ia meminum sesuatu dari gelas yang berada di genggamannya. Saling bertatapan seperti ini membuatku bertanda tanya tak mampu berbuat apapun selain saling  melayangkan tatapan penuh tersirat.
Sebuah sapaan ringan mengalun dan terdengar mengejutkan ditelingaku.

“Manami... kaukah itu?”

Aku menoleh dan meninggalkan perhatianku ke wajah yang semula kulihat.

“Tomoyaaa....” Pekik ringan yang tak sadar keluar dari mulutku menyambut kehadirannya di dekatku. Tomoya bersama istri yang baru saja dinikahinya beberapa saat yang lalu. Dengan penuh kehangatan aku memeluk Tomoya dan menepuk-nepuk bahu sembari mengucapkan selamat atas pernikahannya. Demikian pula dengan sang istri yang berganti kupeluk setelah Tomoya.

“Terimakasih sudah hadir di pernikahanku. Aku sangat merindukanmu.. sudah lama kita tak pernah bertemu.. bagaimana keadaanmu? Baik-baik saja?”

“Seperti yang kau lihat... aku datang di pernikahanmu dan aku terlihat sangat segar bugar bukan?”

Kekeh ringan keluar dari bibir kami masing-masing. 

Pandangan mata Tomoya beralih ke samping. Senyum singkat dan sedikit membungkukkan badan ia mendekati Kanna.

“Kau pasti Kanna. Kau sangat cantik seperti Ibumu.. jadilah anak yang baik dan pintar ya Kanna...”

Raut wajah Kanna lebih berbinar dari sebelumnya karena Tomoya juga menepuk-nepuk dengan penuh rasa sayang di kepala Kanna. Kanna menoleh kearahku dengan tatapan bahagia.

“Ibu... Paman sangat baik..”

“Tentu saja.. karena Paman adalah teman Ibu.”

Gaunku tertarik. Kanna yang menariknya, aku paham betul akan bahasa tubuhnya. Ia ingin membisikkan sesuatu padaku.

“Ada apa Kanna?” Aku sedikit membungkuk  dan mendekatkan telingaku pada bibir Kanna.
“Bolehkan aku memeluk dan mencium pipi Bibi pengantin Ibu?”

Aku terkekeh geli dan memandang ke arah Tomoya yang terlihat sangat penasaran dengan apa yang aku dan Kanna bicarakan.

“Apa katanya?” Tomoya menaikkan alisnya.

“Kanna ingin sekali memeluk dan mencium pipi Bibi Pengantin. Bolehkah Bibi?” Aku mewakili dan mengatakan apa yang ingin Kanna katakan karena Kanna terlihat agak malu dengan pipi putih dan gembul yang terlihat merona.

“Tentu saja Kanna sayang, sini mendekat pada Bibi...” Istri cantik Tomoya yang bernama Mariko langsung membuka kedua lengan yang dibalut sarung tangan transparan berwarna putih untuk bersiap menerima pelukan dari Kanna.

Dengan langkah ragu dan terlihat malu, Kanna berjalan perlahan kearah Mariko dan memberikan pelukan kecil yang hangat. Hatiku terasa sangat hangat melihat Kanna dan Mariko terlihat bisa dekat satu sama lain.  Aku memahami betul bahwa Kanna hanya mengenal sosok-sosok dewasa hanya pada pekerjaku dan guru yang mengajarnya serta Yakumi San. Selebihnya ia tak pernah sama sekali bercengkrama dengan siapapun. 

 “Kanna kau mau eskrim? Kau bisa mengambilnya di meja desert dan ambilah sesukamu. Kau suka eskrim rasa apa?” Mariko menggandeng kedua tangan Kanna dengan posisi masih sedikit membungkuk.

Kanna hanya mengangguk malu-malu dan mengeluarkan suara seperti sedang berbisik.

“Vanila coklat... Terimakasih Bibi Pengantin...” Setelah mengeluarkan sepatah dua patah kata, Kanna menunduk dalam-dalam dan menarik-narik lagi ujung gaunku. Aku tanggap akan hal itu.
“Terimakasih Mariko aku akan mengambilnya bersama Kanna nanti, jika kalian ingin menemui tamu lainnya kupersilahkan... Selamat untuk kalian berdua. Cepatlah menyusul Ryota untuk mempunyai anak yang lucu.”

“Kami juga sangat berterimakasih Manami kau mau datang, nikmatilah acara kami. Pulanglah setelah acara selesai, kami ingin mengambil foto bersamamu.”

“Baiklah... Sekali lagi selamat untuk kalian.”

Aku kembali memeluk Mariko dan menjabat tangan Tomoya. Setelah itu mereka berlalu menghampiri   untuk  bercengkrama dengan tamu lain yang hadir. 

“Ibu....”

“Iya Kanna sayang... kau mau eskrim?”

Kanna hanya mengangguk dengan anggukan kuat dan senyum kecil yang manis serta kedipan mata centil yang biasa ia perlihatkan padaku ketika meminta sesuatu.

“Kalau begitu.... Let’s goooo....” Dengan semangat aku menggandeng Kanna untuk menuju meja yang  mengambil beberapa scoup eskrim ke dalam piring kecil. Melupakan seseorang yang tadinya sempat singgah dipikiranku.


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Kemana saja kau selama ini?”

Suara berat dan penuh penekanan menyambutku saat keluar dari toilet saat aku baru saja merapikan make up dan menata rambutku yang sedikit berantakan. Demi Tuhan aku sangat terkejut mendengar suara itu kembali, membuatku kembali mengingat akan kemarahannya beberapa tahun yang lalu. Sesosok laki-laki jangkung berambut pirang dan  bermata sayu menghadangku.

“Aaa... Toru.... ” Lidahku terasa sangat kelu.

Aku menatap sungkan pada Toru dan menghindari matanya agar degup dalam dadaku tak bertambah makin kencang. Lelaki yang bersandar di dinding dan tengah menatapku seolah aku ini adalah seekor kelinci yang siap jadi buruannya. 

Aku tersadar bahwa sapaanku pada Toru sangat canggung.

“Tak perlu berbasa-basi.” Ujarnya sinis.

“Aaa......” Ucapanku seperti tersangkut di tenggorokan dan tak mudah meloloskannya di saat seperti ini.

“Selalu seperti inikah kebiasaanmu? Menghilang setiap ada masalah besar di hidupmu???” Sentak Toru.

Gertakan tertahan Toru seperti suara petir yang menggelegar di telingaku...


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


“Ibu......”

Gadis kecil itu terlihat gelisah dan tak tenang, sudah terlalu lama ia menunggu Ibunya yang sebelumnya berpamitan pergi ke toilet. Gadis kecil itu mengerti tentang waktu yang sebentar ataupun lama, ia hafal bahwa Ibunya tak pernah berbohong soal waktu. Ibunya berpamitan seusai keduanya menghabiskan eskrim dan hendak berfoto bersama dengan mempelai pengantin.

“Ibu dimana.....? Ibu, Kanna takut sendirian.... Ibu...”

Diremasnya gaun berenda miliknya hingga ujung roknya sedikit terangkat hingga terlihat betis kecilnya. Tangannya mulai basah oleh keringat dingin karena merasa asing dengan sekitarnya yang menurutnya tidak pernah ia temui sebelumnya.  Kanna mulai merasa ketakutan. Sejenak kemudian ia memejamkan mata, kedua ujung bibirnya tertarik kebawah bersiap untuk menangis jika saja tak ada suara yang menyapanya halus...

“Hai gadis cantik, kenapa wajahmu sangat sedih? Apa kau sendirian? Dimana orangtuamu?”
Suara lelaki yang terdengar bersahabat, pikir Kanna. Tapi ia selalu teringat kata-kata Ibunya yang selalu mengatakan bahwa  berhati-hati jika ada orang asing yang mengajaknya bicara. Kanna selalu mengingat itu, jadi ketika ‘lelaki asing’ mengajaknya berbicara Kanna hanya diam dan menunduk tak berani memandang seseorang yang berada di hadapannya.

“Kenapa diam saja? Jangan takut, Paman bukan orang jahat....” Kekeh ‘Si Lelaki Asing’ dengan suaranya yang terdengar sangat renyah.

Kanna bingung. Ia akhirnya berani mengangkat wajahnya kemudian menoleh dan melancarkan pandangan ke segala arah kemudian berakhir pada obyek yang berdiri membungkuk di hadapannya. Seorang lelaki yang menurut Kanna pantas disebut dengan sebutan paman, serta lelaki yang juga terlihat baik.

“Aku kehilangan Ibu...” Akhirnya Kanna membuka suara juga. Suaranya terdengar lirih dan kalah oleh hingar bingar pesta.

“Hmmmm...??? Kehilangan Ibumu? Bagaimana bisa?” 

Hanya gelengan kepala yang bisa Kanna berikan atas jawaban ‘Lelaki Asing’ yang menatapnya penuh tanda tanya.

“Baiklah Paman akan membantumu mencari dimana Ibumu berada. Paman orang baik jadi jangan takut pada Paman ya...”

Kanna hanya mengangguk pelan, masih khawatir jika nanti ia dan ibunya tak akan bertemu. ‘Si Lelaki Asing’ menggandeng tangan mungil Kanna ketika berjalan agar tak hilang ditelan kerumunan tamu. 

“Kenapa wajahmu masih sedih? Ayo tersenyum..”  Ujar ‘Lelaki Asing’ sambil terus mencoba untuk menghibur Kanna yang masih dihiasi wajah muram.  

Pelan-pelan Kanna akhirnya bisa tersenyum walaupun hanya senyum singkat yang bisa ia perlihatkan. Tangannya digenggam erat oleh lelaki asing yang baru ia kenal, meski begitu Kanna merasa nyaman dan tak merasakan sesuatu yang bisa membuatnya takut. Dilihatnya seluruh penjuru  ruangan serta para tamu, mencari tahu keberadaan Ibunya dengan balutan gaun putih yang lama tak kembali. Ternyata cukup banyak tamu yang menggunakan gaun berwarna putih sehingga membutuhkan waktu untuk ‘menyibak’ tamu demi tamu bergaun putih. Setelah sekian lama berjalan, berakhirlah mereka berdua di halaman belakang gedung yang lepas dari keramaian. Kanna menemukan sosok yang tiap hari selalu bersamanya... 

“Itu Ibu..!!! Paman..paman itu Ibu !! “ Sorak Kanna dengan nada ceria.

‘Si Lelaki Asing’ pun menoleh kesamping dan tiba-tiba genggaman tangannya pada Kanna sedikit merenggang. Kanna pun menampakkan wajah keheranan dengan kedua alisnya saling bertaut. Ia harus menyaksikan pergelangan tangan Ibunya tengah dicengkeram kuat oleh lelaki lain yang sama sekali belum pernah ia lihat selama hidupnya.

“Ibu..... ! “ Pekik Kanna

“Manami.......” Desis ‘Lelaki Asing’

Bersambung.

**************************************************************

Hoi hoi hoi.... udah kelamaan banget ya nungguin chapter ini? Padahal udah dijanjiin bakal cepet posting tapi nyatanya....
Huh emang dasar tuh authornya suka seenaknya #nunjukdirisendiri hahahahaha
Tapi semoga chapterini bisa membunuh rasa penasaran yang udah numpuk di ubun-ubun yak... mungkin besok atau besoknyalagi chapter selanjutnya nongol lagi. Jadi.... tetep setia baca kapanmainlagi ya....

Selamat Malam

Terimakasih Sudah Berkunjung

Kapan-kapan Main Lagi Ya....

24 komentar:

  1. Wohoo.. Akhirnya muncul juga lanjutan efef yg satu ini..
    Masih setia nungguin lanjutan selanjutnya..
    Mangat ya sist..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wuih... langsung ada komentar masuk. Cepet banget kayak kilat...
      Makasih ya Riska udahjadi pembaca setia :D

      Hapus
  2. Akhirrrnyaaa setelah dibikin galau ama mbak author, btw makasih mbak authooor hoho
    Tapi seriusan deh, aku bacanya deg deg-an pas bagian akhirnya hehehe
    Ditunggu kelanjutannya yaa :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan panggil author ah, jadi gaenak... hehehehe
      iyaaaa stay tune terus ya di kapanmainlagi... etdah dikira radio pake staytuned segala :v

      Hapus
    2. Hohoho sorry itu kebiasaan baca ff jaman kena korea attack :p
      Aku manggilnya apa dong?
      Sip sip, ditunggu cerita barunya sama lanjutannya

      Hapus
    3. Panggil nama aja lebih enak hehehehe.
      Wokay... makasih ya Nurul :D *wink

      Hapus
  3. Halah.. Ini sangat-sangat menggantung :o tapi apik mbak :D gawe kepo wkwkwkw

    BalasHapus
  4. huuaaaaaaa ...
    akhirnyaaaaa mba widi posting jugaa*terharu
    tadinya aku ragu mau cek blognya mba widi .. tp ternyataaa janjimu kamu tepati mbaak ...
    kereeennn ...
    aku bener kan bener .. itu toruuu ...
    ayo update lagi mbak .. jangan lama2 ya mba widii ..
    ga sabar baca lanjutannya ..
    *hugging

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku ga bisa komen apa-apa.
      cuman bisa ngakak, "hahahahahahhaa" doang :D

      Hapus
    2. ngakak aja mba widii ...
      dirimu itu ga tau gimana antusiasnya aku baca lanjutan cerita ini ...
      durasinya kok pendek to mbaa .. atau aku yg kecepetan bacanya ya ?
      pokok'e jgn lama2 mba widiii posting lanjutannya ... jangan sampe tahun depan lo yaa ...
      hahaaa

      Hapus
    3. Sengaja pendek sih, soalnya kalo kepanjangan mood suka ilang-ilang sendiri dan tau-tau malah mandeg & gajadi posting hahahaha.

      Iya Wul ga sampe taun depan kok :D

      Hapus
  5. Hyaa, dengan ending yang menggantung, bikin penasaran aja mbak Widi... tapi fffnya bagus! bisa bikin perasaan pembaca ngerasa jadi tokoh utamanya.... :v
    Semangat terus bikin ff nya, kutunggu ff lanjutannya ya...

    BalasHapus
  6. permisi mbak, numpang tanya. ini lanjutan ffnya mana yaa?? hihihi.. keren ceritanya, 20 jempoollll!!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. belum ada, hehehehe

      baru proses nih, tunggu ya...

      Hapus
  7. Hay mbak author, ceritanya bagus. Lanjutannya ditunggu ya, kalo bisa secepatnya haha. Keep writing!
    *dhiya

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe, jangan panggil mbak author... terlalu berat nama itu buat saya #halah
      makasi udah mampir dhiya :D

      Hapus
  8. mbak widii lanjutun dung pluuus.
    . o ye selamat hariraya idul fitri yee.. mohon maap lahir batin

    :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya sayang... mohon maaf lahir batin juga :D
      tetep ditunggu aja lanjutannya :D :D

      Hapus
  9. Balasan
    1. Hai Ginslezt, lanjut kok
      kaming sun tunggu aja ya

      Hapus

Feel free to comment... silahkan....