Jumat, 04 April 2014

Fanfiction One Ok Rock My Baby, Sweet Baby





My Baby, Sweet Baby

Author : Me / Parasarimbi

Genre : family

Lenght : Ficlet

Main Cast : Ryota, Tomoya

Disclaimer : Story is mine.




“Tarik nafassss..... hembuskan! Dorong terus... yak dorong...!”

Suara tegas seorang wanita terdengar di sebuah ruang bersalin di salah satu kota kecil di Jepang. Seorang Pria merasakan tegang, resah dan semua hal mencemaskan berbaur menjadi satu.

Hari ini menjadi hari yang mendebarkan bagi Ryota. Bagaimana tidak? Sebentar lagi ia akan naik pangkat menjadi seorang ayah setelah sebelumnya menjadi suami. Istrinya sedang didalam ruang persalinan bersama bidan dan perawat, untuk memberikan ruang dan nafas baru di kehidupan seorang bayi kecil.

Kenapa Ryota tak menemani? 

Ternyata Ryota takut dengan darah, dan ia sendiri ragu jika ia nekat menemani istirnya didalam sana bisa-bisa ia jatuh pingsan karena menghirup aroma anyir darah. Jadi Ryota hanya menunggu diluar bersama Tomoya rekan kerjanya yang bisa dikatakan rekan abadi yang selalu setia besamanya. Ditengah rasa cemas yang menderanya saat ini mulutnya terlihat bergumam entah apa yang ia katakan. Dan hal ini disadari oleh Tomoya,

“Hey Ryota, kau terlihat tegang sekali”

“Tentu saja bodoh! Istriku sedang berada didalam sana demi bayiku.” Dan Ryota berganti aktifitas dengan menggigiti kuku nya yang lumayang panjang.

“Aku tahu aku tahu, bagaimana perasaanmu. Tapi daritadi aku melihat mulutmu tak henti-hentinya mengatakan sesuatu. Apa yang kau katakan?” 

Tomoya menepuk bahu Ryota kemudian menyodorkan sebatang rokok, kemudian dengan cepat disambarnya rokok tersebut. Setelah rokok menyala dari korek api yang disodorkan oleh Tomoya, Ryota menghisap dalam-dalam asapnya dan mengeluarkannya kembali asap-asap itu hingga beterbangan. 

“Istriku sedang berjuang sendirian didalam. Aku laki-laki pengecut yang tidak berani masuk hanya karena darah. Aku hanya berdoa semoga istri dan bayiku dalam keadaan baik baik saja.”

Kembali Tomoya menepuk-nepuk bahu Ryota berharap Ryota bisa terhibur dengan kehadirannya dan mengurangi rasa kekhawatirannya.

“Jika kau mau, kau bisa bersandar dibahuku.” Tawar Tomoya sambil menaik turunkan kedua alisnya.

Ryota menatap Tomoya dengan pandangan jijik.

Tomoya  hanya tertawa terbahak-bahak dengan menutupi mulutnya dengan jaket yang ia bawa, segan jika membuat sedikit keributan dirumah sakit.

Ryota masih dengan cemas memikirkan istri dan calon bayinya terus merokok tanpa henti. Kakinya tak berhenti bergerak. Seorang perawat yang kebetulan lewat di depan mereka mengetahui ada seseorang yang merokok di koridor rumah sakit segera menegur Ryota dengan halus.

Ah Ryota lupa, ini rumah sakit dan dilarang merokok. 

‘Tomoya bodoh!’ Pikir Ryota

Tomoya masih cekikikan dengan posisi sudah menjauhi Ryota, takut kalau-kalau Ryota melempar sesuatu di kepalanya. Ryota segera mematikan rokok yang tinggal setengah batang itu. Dengan pandangan menerawang menatap langit-langit koridor rumah sakit itu, berharap bayi yang dinantikannya segera cepat keluar dan istrinya tak merasakan kesakitan lagi.

Jarum jam seakan melambat untuk bergerak, entah sudah brapa lama Ryota menunggu istrinya yang masih bergulat dengan maut di ruang persalinan. Berpindah dari kursi yang berjajar rapi di koridor, kemudian berdiri menyandarkan tubuhnya kedinding disebelah Tomoya. Ryota benar-benar tak bisa berpikir dengan baik, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang selain berharap agar dirinya, istri dan bayinya dapat melewati kesakitan yang sangat menyiksa ini dengan segera.

“Aeeeeeeeeek......!” Pekik suara bayi yang baru saja keluar dari ‘rumahnya’ selama 9 bulan lebih.

Ryota pun membuka kedua telapak tangan yang menutupi wajahnya. Sontak Ryota langsung berdiri dan menuju pintu ruangan dimana istrinya berada didalam sana. Ryota menanti tak sabar dengan wajah yang berbinar bahagia. Selang beberapa saat pintu terkuak dan berdirilah sesosok wanita berpakaian putih-putih membawa sebuah tubuh kecil bernyawa dan masih ringkih yang sudah bersih dan diberi selimut putih.

“Selamat Tuan Ryota, bayi anda lahir sehat dan berjenis kelamin perempuan.”

Kaki Ryota tiba-tiba melemas sekitika saat melihat gadis kecilnya yang sudah ia nantikan kehadirannya. Mulutnya sedikit ternganga, ia merasakan rasa haru yang teramat sangat karena diberi anugerah yang tak ternilai. Dengan hati-hati Ryota mengambil alih dan menggendong bayi yang sebelumnya berada di gendongan dokter dan diciumnya pipi bayinya yang terasa lunak.

“Selamat datang nak, Selamat datang di dunia. Ayah sangat menyayangimu. Cepatlah besar dan jadilah anak yang baik..” Bisik Ryota di dekat telinga putri kecilnya.

Ryota hampir ingin menangis jika Tomoya tak mendekat dan memberi selamat atas status barunya menjadi seorang ayah. Ryota sangat terharu.

“Selamat kawan, jadilah ayah yang baik untuk putrimu.”

Ryota melirik sebal,

“Tentu saja! Aku ini ayah yang baik”

“Siapa bilang? Buktinya kau masih seorang perokok berat..”

Ryota terlihat berpikir.

“Benar juga. Kau temanku yang baik meskpun kadang kau bodoh.” 

Mendengar hal itu, Tomoya menginjak pelan kaki Ryota, sedikit terkejut dan refleks Ryota pun memaki Tomoya.

“Sialan, aku sedang membawa bayi!”

Tomoya tertawa senang.

“Hey, karena ini hari bahagiamu, aku ingin kau kufoto bersama bayimu.” Ujar Tomoya.

“Ah ide yang bagus, aku juga akan membagikan foto ini ke sosial media agar dunia tahu aku sudah punya anak bayi yang cantik....”

“Yasudah sekarang bergayalah dengan bagus..”

Ryota pun berpose bersama bayinya yang tidur tenang di pangkuannya. Ia seakan ingin menunjukkan kepada seluruh dunia bahwa ia sudah menjadi seorang Ayah. Tiada hal yang lebih membahagiakan mengingat ia tidak lagi tinggal berdua dengan istrinya, tapi ada satu anggota baru lagi yang akan menambah lukisan di kanvas rumah tangganya. Bayi rapuh itu menguatkan Ryota bahwa ia harus bekerja lebih baik lagi demi masa depan dan kebahagiaan putrinya. Ia tak lagi bisa bersenang-senang dengan teman-temannya sesering mungkin, seperti yang ia lakukan meskipun saat itu ia sudah menikah. 

Ada segenggam beban yang akan membesar seiring berjalannya waktu. Dan ia akan terus berusaha untuk keharmonisan keluarganya. Ia dan istrinya sekuat mungkin akan membesarkan putrinya dengan baik dan penuh kasih sayang. Itu janji Ryota.

“Okeeee... sudah selesai..”

Tomoya mengakhiri acara berfoto ria dan ia berpamitan keluar sebentar untuk membeli sesuatu. 

Sepeninggal Tomoya,  perasaan Ryota seketika menyiratkan rasa janggal. Sepertinya ia melupakan sesuatu dan hal itu terbukti ketika sebuah teriakan melengking terdengar di telinganya...

“Ryotaaaaaaaaaaaaa.... Apa kau sudah lupa jika kau punya istri???”


Firasatnya memang tidak pernah meleset.


END.
~~~~~~~~~~~~~~~~~

Rampung dah. 

Ahhhh senang sekali rasanya ya punya dedek bayi.

Itu yang lagi saya rasain sekarang, istrinya kakak sepupu melahirkan Rabu kemaren dan bayi nya cowok. Aih senengnya. Welcome to the World Baby Ken (Kalo gasalah dengar sih bokapnya bayi ngasih nama Ken sebagai panggilannya. Tapi ga tau juga udah fix apa belum ~ hehe)

Dan saya sengaja kasih cast nya ke Ryota, karena Ryota itu kelihatan sangat bapak-bapak.. #ups oh salah ya.. kelihatan sangat kebapakan. Dan saya suka banget liat foto dia foto sama ponakannya itu, ahhh paman yang sangat kece.. saya mau dong jadi ponakannya. hahaha
 .
.
Oh iya, kira-kira dikasih kado apa ya si Baby Ken? Ada yang bisa ngasih saran?
tamiya? pistol air?
.
.
Terimakasih Sudah Berkunjung.
.
.
Kapan-kapan Main Lagi ya...
.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Feel free to comment... silahkan....