Jumat, 25 April 2014

Fanfiction One Ok Rock ; Why ?





Why?

Author : Parasarimbi

Genre : Sad

Lenght : Chapter apa bukan ya? Chapter aja deh...

Main Cast : You / Me as Karenina, Takahiro Morita as Taka, Alex Onizawa as Alex

Disclaimer : Kayak biasanya... story is mine.
                                           



 ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kira-kira apa yang harus kulakukan ketika mengetahui kekasih hati yang sangat disayangi berpaling ke orang lain yang lebih segalanya daripada diriku sendiri?

Sakit bukan?

Dan itu yang sedang kurasakan saat ini. Melihat kekasihku pergi ke klub malam di hari ulang tahunnya mengundang beberapa gadis berambut pirang dan bersenang-senang disana. 

Bagaimana denganku yang beberapa waktu lalu menunggunya di sebuah tempat biasa aku dan dia berkencan. Kue tart yang masih terbungkus rapi didalam kotak, lilin kecil berjumlah 26 dan sebuah kado kecil untuknya. 

Dia tidak datang.

Tidak datang di acara makan malam yang sengaja kubuat untuknya demi merayakan hari bahagianya. Sudah lebih dari 4 jam aku menunggunya di restoran yang sangat romantis ini. Tanpa meninggalkan pesan apapun ia memang tidak datang. Bisa dibayangkan aku sudah menyiapkan rencana ini semenjak dua minggu yang lalu dan berniat memberikan ia kejutan. Harapan memang tak seindah kenyataan... Demi Neptunus kecewa ini sungguh menyakitkan, sama seperti kekecewaan yang pernah terjadi sebelumnya.

Ketika restoran ini sudah hampir tutup, kukemasi segalanya dan kubawa pulang kembali. Mungkin kue tart ini masih bisa kusimpan di freezer agar bisa dimakan ketika aku sudah memberikannya kepada Taka. 

Taka?

Yap, itu nama kekasihku. Sudah hampir dua tahun aku menjalin asmara dengannya. Seorang vokalis terkenal yang sering mengikuti tour  di setiap acara festival musik di kotaku. Band yang dinaunginya lumayan terkenal dan siapa yang tak mengenal Taka? Di setiap Universitas di kampus ini pasti mengenal siapa Taka. Ia memang sangat populer sekali.
~~~
 
Sepatu high heels yang sangat menyakitkan ini kutenteng dengan tangan kiriku, sementara kado dan tas kubawa di tangan kanan. Aku bertelanjang kaki dan melewati jalanan malam ini dengan dingin yang merasuk melewati sela-sela jari kakiku. Untung mantel berwarna coklat ini cukup tebal untuk mengusir kedinginan itu di badanku. 

Jalanan ini masih begitu sangat ramai walaupun sudah menjelang tengah malam. Kota ini memang tak pernah tidur, hingar bingar dan lampu kerlap kerlip di sekelilingku menambah semaraknya kota ini. Trotoar yang masih ramai dengan pejalan kaki dan hiruk pikuk di lajur sepeda yang dipenuhi banyaknya komunitas pesepeda yang berkeliling dimalam hari. Mobil yang masih melewati kawasan ini masih banyak sekali berbeda halnya dengan sarana transportasi. Bus sudah tak beroperasi pada pukul 9 sedangkan taksi hanya beberapa saja yang lewat.

Apartemenku masih sejauh 5 kilometer lagi, aku tetap bersikeras untuk pulang berjalan kaki. Seolah masih senang menikmati kesakitan ini, larut pada kesedihan dan segala pedihnya rasa kecewa. Walaupun telapak kaki ku mengalami sedikit lecet pada bagian bawah jari kaki, perihnya tak terasa. Ada yang lebih sakit lagi... disini. Kusentuh dada bagian kiri atas tepat di jantung. Sakitnya lebih menyakitkan daripada lecet pada tubuh ini. 

Beberapa meter jauhnya aku bisa melihat kerumunan orang-orang yang turun dari mobil. Laki-laki dan perempuan. Mereka hendak masuk kedalam sebuah bar atau klub malam yang rata-rata pengunjungnya adalah yah... aku tak bisa mengatakannya.

Bisa ditebak para wanita itu berasal dari luar Jepang hanya dengan melihat dari fisiknya. Bertubuh tinggi semampai, berhidung mancung, berambut blonde dan bermata tajam. Ahh mereka sangat cantik sekali. Cantik seperti boneka yang sangat kuinginkan ketika masih sangat kecil dulu. Dan laki-laki yang bersama mereka adalah laki-laki Jepang dan...

Tunggu !

Bukankah itu Taka.

Kekasihku yang seharusnya makan malam bersamaku merayakan ulangtahunnya. Apa yang akan ia lakukan bersama gadis-gadis itu? Pakaiannya sangat rapi sekali. Memakai jas dan dasi yang aku sendiri tak pernah melihatnya serapi itu. Aku sengaja menepikan diri di emperan toko yang sudah tutup untuk bersembunyi dan mengawasi gerak-gerik Taka. Raut wajah bahagia dan tawa lepas terlihat dari wajahnya, belum pernah ia kulihat sebahagia ini bersamaku. 

Ia juga bersama beberapa teman laki-laki  yang aku sendiri tak mengenali mereka sama sekali. Dadaku berdegup kencang, apa yang akan ia lakukan? Pertanyaan serupa selalu bergema dalam batinku. Dan yang kulihat kini sungguh sangat menyakitkan, ia memeluk pinggang gadis bule itu dengan satu tangannya. 

Sakit....

Aku pun harus melihat lagi Taka mengecup singkat pipi gadis bule itu dengan wajah merona seperti laki-laki yang sedang jatuh cinta.Setelah aksi kecupan ringan itu tawa mereka lepas dan terlihat begitu bahagia seperti sepasang kekasihyang baru saja memadu kasih.

Semakin sakittttt.......

Sedetik kemudian amarah bergemuruh dalam dadaku. Ini tak bisa dibiarkan bagaimana mungkin kekasih yang seharusnya bersamaku malah berdua dengan gadis lain. Dia harus menjelaskannya padaku.

Taka dan gadis bule serta beberapa teman-temannya telah memasuki gedung klub itu, aku mencoba mengejar dan berusaha masuk kedalam klub tersebut. Ingin mengamati apa saja yang akan Taka lakukan dengan gadis itu. Mungkin ini bukan hari yang baik untukku, aku ditolak masuk oleh laki-laki berotot karena tidak memiliki undangan untuk acara privat party ini. Saat kutanyakan siapa yang mengadakan acara ini mereka menolak menjawab dan tetap mencoba mengusirku keluar.

Taka. Kau membuatku terlunta-lunta.

Aku tetap keras kepala untuk berdiri dekat pintu masuk klub ini, dan masih mencoba untuk bertanya pada beberapa orang yang hendak masuk kedalam gedung klub ini.

“Permisi, bolehkan kutahu siapa yang mengadakan acara privat party disini?” Tanyaku sopan pada laki-laki yang memakai jas rapi dan berwajah cukup tampan dengan garis wajah yang tegas. Ia bersiap akan masuk ke gedung klub dan memegang tiketnya.

“Apakah kau salah satu satu penerima undangan?” Tanya lelaki itu dengan pandangan bertanya-tanya.

Aku gelagapan.

“Yahh, Umm. Benar tetapi aku kehilangan undanganku. Sepertinya aku menjatuhkannya disuatu tempat.” Aku berbohong seolah mengeluarkan puppy eyes - ku.

Laki-laki itu pun mengernyitkan sebelah alisnya dan memandangku dari atas hingga kebawah.

“Kau lumayan juga, bagaimana bila kau menemaniku. Aku sedang tidak ada pasangan?”

Tawaran gila!

Sebagian akal sehatku mengatakan aku harus menolak, tapi sebagian lain mendukungku untuk menerimanya agar aku bisa mengetahui seperti apa Taka di dalam sana bersama gadis bulenya.

“Tentu saja.” Jawabku berlagak genit. Demi Neptunus, aku ini seperti gadis yang terbiasa dengan kehidupan malam.  

Begitu masuk kedalam dengan menggandeng lelaki yang belum lima menit kukenal, aku merasakan hawa dingin AC yang teramat sangat. Musik yang sangat berisik seperti menonton konser musik rock, tapi aku yakin ini lebih berisik. Aku bisa merasakan telingaku mendadak tuli. Mataku pun pedih luar biasa karena asap rokok yang membubung dan hanya mengitari sekitar ruangan ini. Laki-laki dan perempuan bercampur menikmati tarian-tarian menghentak mengikuti musik yang diputar oleh DJ. Goyangan erotis pun tak ketinggalan ada disini, ketika kulihat 3 gadis muda dan cantik berjoget di atas meja bartender dengan pakaian yang sangat minim.

Dengan masih menggandeng laki-laki ini, akal sehatku tetap menguasaiku untuk lebih waspada di dalam sana. Aku tak boleh lengah. Banyak sekali lelaki dan wanita yang bersenang-senang tanpa memperhatikan batasan-batasan yang ada. Semua bebas bersentuhan dan bebas saling meraba. Aku mewaspadai pergerakan laki-laki di sampingku ini. Aku tidak ingin jika dia nantinya mencampur sesuatu di minumanku dan akhirnya... yah....tak usah kusebutkan.

Demi Neptunus, telingaku berdenging dan seakan tak bisa mendengar percakapan apapun selain musik disko ini. Saat lelaki disebelahku menanyakan namaku, ia harus berulang kali bertanya karena memang aku tak bisa mendengarnya sama sekali. Ia mendekatkan bibirnya kearah telingaku untuk bertanya.

“Siapa namamu???” Teriaknya

"Hahh???" 

"Namamu??? Siapa Namamu???"

"....."

Dia menanyakan namaku. Aku berpikir keras untuk mencari nama samaran.

“Namaku Shoko...” Jawabku kemudian dengan perasaan ragu.

“Apaaaa???!”

“Shoko! Namaku Shoko?” Teriakku tak kalah keras.

“Oh...Shoko. Aku Alex. Kau cantik!” 

“Terimakasih.” Seharusnya aku senang menerima pujian dari laki-laki yang bernama Alex tapi tidak untuk saat ini.

Berada di salah satu sudut sofa di klub ini aku duduk berdua dengan Alex, aku merasa sangat tidak nyaman. Aku bergidik dan merinding saat bibir Alex mendekat kearah telingaku dan meniupnya. Dan tangan Alex semakin mengeratkan pelukan sebelah tangannya ke pinggangku. Kalau seperti ini apa bedanya aku seperti gadis bule yang dipeluk oleh Taka tadi.

Pikiranku kacau. 

Mataku tak lepas melihat ke segala penjuru untuk mengetahui dimana Taka berada. Di sudut kanan tidak ada, disudut kiri juga nihil, dia tidak ada dimana-mana. Sebenarnya kau ada dimana Taka? Kenapa kau berbuat seperti ini padaku? 

Karena terlalu sibuk dengan kegiatanku, Alex menegurku.

“Kau mencari siapa???”

“Hahh?? Apaaaa???”

“Kau mencari seseorang?? 

"Ah ya, aku mencari seseorang...!!!" Pandanganku masih mencari-cari laki-laki berambut gondrong dan keriting itu.
 
"Kau datang denganku jadi sebaiknya kau mengarahkan pandanganmu kepadaku...?!” Teriak Alex kesal.

Aku tersadar kemudian menoleh pada Alex, raut wajah kesal terlihat di wajahnya. Setelah kuamati lebih jelas ternyata wajah Alex tak seperti lelaki Jepang kebanyakan. Wajahnya terlihat lebih ‘barat’ atau bisa disebut blasteran. Dan... ia cukup tampan.



“Maaf...” Aku berucap tanpa suara namun kuberikan gestur meminta maaf pada Alex. Ia hanya mengangguk dan semakin mengeratkan pelukannya. 

Neptunus... aku ini sudah mempunyai kekasih dan tak seharusnya aku disini bersama pria lain. Aku menyesal terjebak disini dengan suasana yang memuakkan. Lebih baik aku langsung pulang dan bisa tidur dengan nikmat. Alex mengangguk-anggukan kepala seirama dengan musik disko, ia terllihat sangat menikmati musik ini. Sementara aku sangat tersiksa dengan keadaan ini. 

Aku butuh kapas !

Telingaku sakit sekali.

Aku tak kuat, aku harus segera keluar dari tempat ini bagaimanapun caranya. Aku harus keluar dari cengkraman Alex. 

“Alex... !”

“Yaaaa???”

“Aku ingin pergi ke toilet. Aku sudah tidak tahan!!!”

“Baiklah. Kau mau minum apa? Akan kupesankan!”

“Samakan denganmu, sudah aku harus segera ke toilet...”

“Hahahaha, baiklah...”

Saat hendak bangkit berdiri dan berjalan, Alex menarik tanganku lagi untuk duduk dan mengatakan sesuatu.

“Jangan berani lari dariku,” Bisik Alex yang terlihat sangat jelas karena musik sedang berhenti.

Aku membeku.

Ancaman ini sempat membuat nyaliku ciut. Tapi sudah kubulatkan tekat aku harus melarikan diri dari tempat ini walaupun nanti aku tak bertemu dengan Taka.

“Baiklah...”

Dengan cepat Alex mengecup pipiku. Mataku membulat lebar.

"Aku menginginkanmu..."

Sial !

Kenapa banyak sekali ia mencuri kesempatan dariku.

Sesegera mungkin aku meninggalkan tempat ini, dengan berkamuflase bersembunyi dibalik pria-pria berbadan besar agar Alex tak mengetahui dimana posisiku sekarang. Aku sangat pintar dengan tiap urusan melarikan diri, jadi aku bisa menghilang dengan mudah secepat angin. Dan kujamin Alex tak akan bisa menangkap maupun mengejarku. 

Jalanan sudah sangat sepi, dan aku berlari dengan cepat sambil menjinjing kembali high heels yang merepotkan. Berlari sekuat tenaga agar secepatnya sampai di apartemen dan aman ditempat seharusnya aku berada.

Dan disinilah aku.

Meringkuk dalam selimut dan merenungi tiap kejadian yang telah terlewati.
Taka... aku merindukanmu dan sangat mengkhawatirkanmu. Apa yang sedang kau lakukan disana bersama gadis bule yang berada sangat dekat denganmu. Kenapa kau tak datang di acara makan malam kita?

Alex... aaah maafkan aku orang asing, aku tak bermaksud mengerjaimu. Maaf jika aku berbohong dan melarikan diri tanpa sempat mengucapkan yang sesungguhnya. Semoga kita tak bertemu lagi di lain hari....

Dan mataku mulai berat dan terpejam saat jarum jam menunjukkan  pukul 03.30

To be Continued...


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~`

Ditemenin lagunya Zedd yang Clarity jadi brasa banget feelnya pas ngebayangin suasana klub malam. 
Kelanjutannya besok lagi yak...
Gw udah capek ngetik banyak-banyak. Mau garap kerjaan kantor sama garapan kuliah dulu.. tuh kan sok sibuk banget kan gw?

Yaudah selamat malam ya...
.
.
.

Terimakasih Sudah Berkunjung..
.
.
.
Kapan-kapan Main lagi...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Feel free to comment... silahkan....