Selasa, 13 Mei 2014

Fanfiction One Ok Rock With You



With You

Author : Parasarimbi

Genre : Friendship

Lenght : Twoshoot

Cast : Taka, You/Me

Disclaimer : Story is Mine




~~~~~~~~~~

Tringgggg.

Ponselku berbunyi menandakan pesan masuk, kubuka flip ponsel dan kubaca nama pengirimnya,

Taka

“Posisi?”

“Tempat biasa”

Tak ada balasan.

Aku sedang duduk di sofa panjang di kafe yang biasa kujadikan tempat sumber inspirasi ku menulis. Kafe favorit bercat biru turqoise yang hampir setiap hari ku kunjungi ini memiliki dua lantai dan sangat nyaman. Dengan harum lemon dari semprotan pewangi ruangan menambah rasa yang membuatku betah berlama-lama disini. Kafe ini mempunyai balkon di lantai dua yang mempunyai view yang cukup bagus. Dengan pandangan mengarah ke sungai selebar 8 meter ini menambah suasana yang tak bisa kujabarkan. Tidak terhalang oleh gedung pencakar langit dan tidak bising. Aku suka menulis apa saja dan tentang apa saja. Semua yang ada dipikiran maupun cerita dari orang lain kutuangkan dalam sebuah rangkaian kata. Di sela kesibukanku menulis, aku memanggil seorang pelayan dan memesan sesuatu. 

Sekitar 10 menit kemudian, seorang laki-laki berambut keriting dengan wajah yang ditutupi masker berwarna putih. Memakai celana panjang jeans berwana hitam dan kaos polos berwarna hitam yang dibalut jaket berwarna senada. Tanpa berkata apapun ia langsung duduk mengambil tempat di sebelahku, sambil melepaskan masker dan meletakkan tas ranselnya di kursi sofa seberang tempat kami duduk.

Kulihat kegusaran diwajahnya, wajah masam dan mendung. Seperti yang sudah-sudah...

“Ada apa dengan wajahmu?”

Taka hanya terdiam murung memandang kedepan dengan tatapan kosong.

“Hei, aku tidak bicara dengan sofa. Aku bicara padamu...”

“Hmmmmmmmm!” Taka berdehem sebal. Ia melipat kedua tangannya kedada ~ bersedekap.

“Biar kutebak? Pasti tentang gadis, ya kan?” Aku melihat ke arah Taka seolah-olah aku mencari sesuatu di wajahnya. Hanya tiga titik hitam di pipi sebelah kanan yang kutemukan.

Wajah Taka semakin masam.

Aku tersenyum dengan sudut kiri bibirku dan sedetik kemudian tawaku meledak.

Hahahahahahahhaha....”

Taka mendecak kesal sambil menatapku tak suka.

“Naluriku mengatakan...., jika tidak ditolak hahaha... pasti kau diputuskan. Hahahahahaha .”

“Diamlah, ini tempat umum.” Taka menghardik sambil melihat sengit kearahku masih dengan tangan bersedekap.

Aku masih tertawa terbahak-bahak sedangkan beberapa pengunjung kafe melihat dengan penuh keheranan ke arahku dan Taka. Mungkin dalam pikiran mereka kami berdua ini pengunjung yang tidak tahu sopan santun karena membuat kegaduhan di tempat umum. Tapi siapa peduli jika sedang menemukan suatu hal yang lucu dan bisa membuat tertawa keras, apa kita  harus menahan tawa hingga tersiksa?

Taka membekap mulutku dengan telapak tangannya agar aku berhenti tertawa. Ia terlihat tidak enak karena beberapa pasang mata pengunjung mengarah ketempat kami duduk.

“Hey, pengunjung lain terganggu dengan tawamu !” Hardik Taka dan masih mencoba menutup mulutku.

“Kalau kau tertawa lagi aku akan pulang.” Ancam Taka sambil melototkan matanya kearahku.

Aku terkekeh geli dan meraih tangan Taka yang menutupi mulutku dan melepaskannya pelan. 

“Memang yang menyuruhmu datang kemari siapa?” Kuarahkan tanganku ke hidungnya dan mencubitnya pelan dan hanya beberapa detik.

“Kau apakan hidungku. Aahhh kau menyebalkan.” Taka mendesah pasrah sambil menampik tanganku kemudian menyandarkan kepalanya di sandaran sofa sembari terpejam. Sepertinya moodnya kali ini lebih buruk dari sebelumnya, tapi itu masih asumsiku saja. Akan lebih baik jika mengetahuinya langsung darinya daripada hanya mengira-ngira.




“Haha, yasudah maafkan aku. Kau pasti kesini karena butuh hiburan kan?” Tatapanku kembali mengarah ke layar laptopku meskipun aku berbicara pada Taka.

“Entahlah, aku hanya ingin menyendiri dan diam. Merasakan kesedihanku saat ini.”

“Menyendiri katamu, ini tempat umum dan lumayan ramai. Kalau kau ingin menyendiri seharusnya kau dikamarmu dan kau bebas untuk menangis semalaman.” 

“Menyendiri disini dengan di kamar itu berbeda.”

“Berbeda? Maksudmu?” aku berhenti mengetik namun dengan tatapan masih mengarah ke layar laptop.

“Yahh menyendiri di kamar tak bisa membagi bebanku pada siapapun, berbeda dengan disini bersamamu. Aku seolah bisa berbagi beban padamu meski tanpa sepatah kata keluar dari mulutku.” Masih dengan mata terpejam Taka mengeluarkan segenap perasaan yang ada dalam hatinya.

Aku menoleh ke arah Taka dan tersenyum menatapnya walau ia tak tahu. Aku tak memberi komentar apapun. Pandanganku beralih pada seorang pelayan yang sedang lewat dan memberi sebuah kode dengan tanganku. Pelayan itu hanya mengangguk dan berlalu menuju dapur kafe. Tak berapa lama pelayan laki-laki itu datang dan memberikan segelas coklat hangat dengan asap yang masih mengepul ke mejaku. Aku menepuk lengan Taka beberapa kali agar ia membuka matanya dan meminum coklat hangat yang telah kupesan untuknya.

Taka membuka mata, melihat sekitar untuk mengadaptasi mata yang beberapa detik lalu terpejam. Setelahnya ia meraih cangkir berisi coklat hangat dan meniupnya pelan, setelah beberapa kali teguk ia meletakkan kembali cangkir itu ke meja.

“Padahal aku belum memesan sesuatu..” Taka bersungut-sungut kemudian meraih ponsel yang ada di saku hoody nya, mengutak-atik sebentar dan diletakkan di atas meja dekat dengan cangkir coklat hangat yang baru saja diminumnya.

“Tapi... terimakasih, kau memang sangat memahamiku.” Lanjutnya.

Aku hanya tersenyum mendengarnya, masih dengan menatap layar laptopku. Seolah-olah aku sedang tersenyum pada laptop. Taka meraih bantal kecil berbentuk segi empat yang ada di sofa yang tergeletak di kursi seberang dan meletakkan bantal itu diatas pahaku. Aku kembali mengetik dan membiarkan kepala Taka yang bersandar di pahaku yang sudah diberi bantal sofa diatasnya. Ia bertingkah seolah kafe ini rumahnya dengan tidur dengan kaki melintang di sofa panjang. Aku tahu ia sedang mengalami hal yang buruk sehingga menyebabkan ia tidak bersemangat malam ini. 

Aku bertemu dengan Taka semenjak kami berdua masih sama-sama menjadi mahasiswa baru tujuh tahun yang lalu. Saat membuat tugas kelompok yang beranggotakan 7 orang, aku dan Taka termasuk didalamnya. Hal itu tak membuat aku dan Taka menjadi langsung akrab, selama dua tahun kami hanya berteman biasa dan tak memiliki kedekatan khusus. Mengobrol singkat ketika bertemu dan saling menyapa dari kejauhan ketika secara tak sengaja berpapasan.
Dan setelah dua tahun dengan area “pertemanan biasa” akhirnya aku dan Taka bisa bersahabat lebih dekat ketika sebuah peristiwa tidak menyenangkan yang dialami oleh Taka. 

Aku tak sengaja mendengar secara langsung seorang gadis yang lumayan terkenal di kampus ini membicarakan seorang laki-laki yang sedang dekat dengannya. Saat itu aku baru masuk di toilet wanita hendak menuju wastafel untuk mencuci mukaku yang sedikit berminyak sehabis berlari-lari di koridor gedung kampus demi tidak terlambat mengikuti mata kuliah. Namun kenyataannya dosen berhalangan hadir, dan aku memutuskan untuk langsung menuju toilet.

Ada beberapa gadis cantik yang sedang bersolek dan mengolok-olok nama seseorang di depan kaca wastafel. Aku duduk diatas kloset di salah satu bilik untuk menunggu giliran gadis-gadis cantik ini selesai memakai wastafel yang dikuasai mereka. Aku masih tak menyadari jika aku mengenal sosok yang tengah dibicarakan para gadis itu hingga saat mereka menyebut nama sosok itu tubuhku terasa disengat listrik. 

Kebetulan aku menyimpan nomor ponsel lelaki yang dimaksud, dan secepat kilat kukirimi pesan singkat ke ponselnya. Aku berharap Taka segera datang dan ia bisa mendengar ocehan-ocehan tak pantas yang keluar dari mulut gadis-gadis ini. Tak sampai sekitar 10 menit obrolan gadis-gadis itu berakhir dan mereka beranjak meninggalkan toilet wanita dan.... kudengar sedikit keributan disana. Yah... aku tak mau tahu apa yang diributkan karena aku sudah tahu apa yang akan terjadi. Lebih baik aku tak ikut campur dan seolah-olah tak mengetahui apapun. Itu lebih baik.

Kegaduhan yang terjadi di depan toilet wanita sudah mereda, entah sudah berapa lama aku duduk termenung di atas kloset. Mengingat lagi kilasan-kilasan apa yang telah kulakukan. Sebenarnya aku tak pantas berbuat seperti ini, apalagi aku sama sekali tak ada urusan apapun dengan gadis itu. Tapi... aku mengenal siapa laki-laki yang mereka maksud dan aku tak mungkin membiarkan laki-laki itu dibodohi begitu saja oleh si gadis. Karena laki-laki itu adalah lelaki yang baik, dan aku sebagai temannya tentu tak akan diam saja. Dan laki-laki itu adalah Taka.

Setelah beberapa lama menyendiri di dalam bilik toilet, sebuah pesan singkat masuk di ponselku. Taka menanyakan dimana keberadaanku dan mengajakku bertemu. Ku balas pesan singkatnya bahwa aku masih berada di bilik toilet dan ia memintaku untuk menemuinya di tempat yang telah di sepakati. Aku dan Taka bertemu dan membicarakan semua yang terjadi baru saja dan mulai membicarakan apa saja. Sejak saat itu aku dan Taka seolah menjadi sahabat yang tak terpisahkan. Dimana ada aku pasti ada Taka, seolah magnet antara kami tak pernah luntur dan selalu kuat merekat. ~

Taka menggeliat dan mulai membuka matanya. Ia regangkan otot-otot tangan dan leher serta pundak. Dan beberapa detik kemudian ia bangkit dari tidurnya dan berpindah posisi duduk seperti saat ia baru datang di kafe tadi.

“Sudah berapa lama aku tertidur?”

“Hmmm... Lumayan, hampir empat jam.”

“Benarkah? Cukup lama aku tertidur.”

“Memang. Kau kan tukang tidur.”

Taka tak menjawab. Ia mengambil cangkir coklat panas yang kini sudah tidak panas lagi. Ia minum sampai habis hingga tetes terakhir, sesaat setelah cangkir ia letakkan kembali di meja ia berkata lagi..

“Sudah gelap sekali diluar. Sudah pukul berapa?”

“Pukul sepuluh, kau mau pulang?”

“Tentu... badanku sangat lelah sekali.”

“Begitu, ya sudah aku juga sudah lumayan pegal duduk cukup lama.”

“Baiklah kita pulang bersama-sama saja.” Ujar Taka sembari bangkit dan memasang kembali masker di wajah dan mengambil tas punggungnya.

“Oke, aku mengemasi barang-barangku dulu. Ah iya... aku menraktir coklat panasmu hari ini.” 

“Terimakasih, akan kutraktir kau lain kali.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~



Malam ini aku bersama Taka sedang menikmati malam bersama di balkon kafe. Seperti yang sudah kami lalui jika bersama, membicarakan siapa saja dan tentang apa saja. Namun obrolan kali ini terasa lain, membicarakan masa lalu yang pernah terjadi padaku.

“Yah, dulu aku memang mempunyai seorang kekasih yang benar-benar aku cintai. Namun saat ditengah jalan kami memutuskan berpisah karena menurutnya ada seseorang lebih baik lagi dariku.”

Taka mendengarkan dengan seksama sesekali menganggukkan kepala.

“Aku sama sekali tak ingin menyanggah keinginannya saat ia utarakan secara gamblang padaku. Walaupun jujur aku sangat terkejut dan kau pasti tahu rasanya jika orang yang kau cintai mencintai wanita lain.”

“Ya.. tentu saja aku tahu, berkali-kali dikecewakan wanita membuatku merasakan apa yang kau rasakan. Lanjutkan...”

“Aku sudah berulangkali memintanya untuk berpikir ulang atas ucapan dan niat yang dibicarakannya padaku. Tanpa ragu dia berkata bahwa hatinya sudah yakin ribuan persen dan ia tak ingin merubah pikirannya. Aku menyerah, aku bisa apa?”

“Lalu kau biarkan begitu saja kekasihmu pergi?”

“Ya.. tentu saja.. Menurutmu?”

“Kau sungguh bodoh... Benar-benar wanita yang bodoh.”

“Aku tak bisa mempertahankan orang yang tidak setia.” Sergahku.

“Baiklah, keputusanmu masuk akal. Lanjutkan lagi...”

“Aku juga menegaskan padanya jika ia lepas dariku, kesempatan untuk kembali sama sekali tidak ada. Sekalipun.”

“Ia pergi...?” Taka bertanya penuh antusias sambil menyesap capucino yang ada dicangkir berwarna putih.

Aku mengangguk.

“Bersama kekasihnya yang baru?”

“Benar sekali.”

Hanya suara ketukan kuku jari tangan Taka yang beradu pada meja tempat cangkir dan piring biskuit diatasnya.

“Kau mengenalnya?”

Aku mengangguk

“Sangat!”

Taka memiringkan kepalanya dan memberikan pandangan penuh tanda tanya.

“Dia sahabatku.” Ucapku singkat.

Rahang Taka terbuka beberapa centi, dia melihat kearahaku dengan pandangan ‘APA KAU BILANG????’ 

“Ya Tuhan... Aku tak bisa membayangkan bagaimana kau saat itu.” Ujar Taka sambil meletakkan cangkir capucinonya.

“Aku baik-baik saja.” Sanggahku sambil menatap sungai di bawah sana.

"Pasti kau rapuh.”

“Tidak, aku tetap tangguh.”

“Baiklah aku percaya, karena aku saksi hidup yang nyata bahwa kau memang tangguh.”

“Trimakasih. Aku sangat terhormat mendengar kata-kata itu keluar dari bibirmu.”

“Lalu...? Ah tunggu... jadi itu sebabnya selama ini kau terlihat selalu menyendiri?”

“Ya... bisa dibilang seperti itu..”

“Kupikir kau lesbian..”

“Kau mau kuhajar???”

“Tidak. Aku hanya ingin ditraktir. Lanjutkan...”

“Baiklah... kulanjutkan lagi. Jadi aku menyendiri bukan tanpa alasan dan aku menyendiri bukan karena tak punya teman.....”

“Kau tak menganggapku teman?”

“Kau ini bisa konsisten tidak? Kau ini sahabat bukan teman. Ingat !”

“Lalu...?”

“Walau tanpa teman, aku bukan orang yang kesepian yang menyedihkan. Aku melalui semuanya sendirian dengan senang.”

“Tentu saja kau senang, Karena ada sahabatmu yang hanya aku seorang.” Taka menimpali.

“Tapi beberapa saat yang lalu ia datang padaku dan meminta untuk kembali padanya.”

Taka terhenyak.

“Kau setuju?”

“Untuk apa?”

“Untuk kembali padanya?”

“Aku tak bisa hidup dan tumbuh bersama seorang pengkhianat.”

Hening sejenak.

“Kau menolak kembali?”

“Yap... Aku lebih senang menyendiri hingga mendapatkan seseorang yang lebih baik nantinya,” Ucapku sambil tersenyum pada Taka dan mengambil satu potong biskuit.

“Wow, sekian lama aku mengenalmu. Aku baru mengatahui sisi gelapmu.”

“Hey, aku bukan gadis kegelapan... jangan menyebut sisi gelap.”

“Baiklah-baiklah... akan kusebut itu masa lalu...”

“Begitu lebih baik...”

Hening sejenak.

“Eummm. Kupikir hanya aku laki-laki didunia ini yang selalu memiliki kejadian masa lalu yang kurang baik. Namun ternyata sahabat di sampingku pernah mengalami hal yang lebih buruk dariku.” Taka memecah keheningan, ia kembali mengetuk-ngetukkan kukunya yang tak panjang di meja. 

“Yah... setidaknya setiap orang bisa mengambil hikmah di balik setiap masa lalu buruk yang terjadi dan semoga tak menemui peristiwa yang sama di masa depan.”

“Kuharap begitu juga padaku.” Taka menggumam pelan sembari menopang dagunya dengan jari tangannya.

“Hey... kau tahu tidak? Ini adalah obrolan serius terpanjang yang pernah kita bicarakan selama kita bersahabat.”

“Oh iya? Memang kita tidak pernah bicara serius?”

Dan pembicaraan malam itu berakhir dengan obrolan ringan dan penuh canda tawa bersama Taka hingga larut. Aku sangat menikmati kebersamaan ini dan entah kenapa tak pernah ingin melewatkan satu pun masa-masa seperti ini bersama Taka. Semua sangat menyenangkan.
.
.
.
To be continue

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Udah lama ff ini kesimpen di draft tapi belum sempet ke publish. Dan akhirnya ada kesempatan buat publish ini ff. Ah entah kenapa saya susah sekali move on dari Taka.
Jadi ff ga pernah jauh jauh dari Taka, besok deh saya bikin babang Toru ya..
.
.
.
.
Selamat Malam.
.
.
.
Terimakasih sudah berkunjung.
.
.
.
Kapan-kapan Main Lagi Ya...
.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Feel free to comment... silahkan....