Senin, 17 Februari 2014

Kelud Mountain Erupted



Gunung Kelud meletus, kira-kira pukul sebelas malam Hari Kamis (13/02). Saat itu saya sudah terlelap tidur dengan headset masih menempel di telinga saya. Dan menurut pengakuan adik saya yang tengah terbaring di tempat tidur yang sama dengan saya, mendengar bunyi letusan yang ia sendiri bingung kira-kira bunyi letusan apa. Karena yang dipikirannya adalah letusan kembang api karena berbunyi selama beberapa kali.



Pagi harinya sekitar pukul 04.45 dini hari, Ibu dan Ayah saya dilanda rasa takjub, terkejut dan panik. Ketika melongok keluar jendela yang dilihatnya luar rumah berubah warna menjadi pucat abu-abu.
Saya yang biasanya susah bangun tiba-tiba bersemangat bangun ketika Ibu membangunkan saya untuk sekedar melihat keluar rumah. Dan benar saja. Suasananya benar-benar berbeda dari biasanya.
Tak lupa saya membawa kamera untuk sekedar mengabadikan suasana yang terlihat mencekam dan sangat sepi sekali dari aktifitas.


Suasana sekitar rumah pukul 05.00 WIB

Pekarangan rumah penuh abu vulkanik



Ini penampakan kaki saya dengan abu yang lumayan tebal.






Waktu saya motoin pemandangan ini diluar, saya baru sadar kalo ternyata rambut sama baju saya banyak sekali abu vulkanik. Brasa punya ketombe yang parah akut.

Penampakan adek saya yang narsis

Kucing saya sempet menghilang entah kemana dari pagi sampe maghrib, mungkin dia nyari perlindungan di tempatnya sendiri.

Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi, tapi selera saya untuk berangkat bekerja hilang terbang. Mengingat cuaca yang sangat tidak memungkinkan untuk keluar rumah. Praktis aktifitas Jumat pagi lumpuh total.
Dan sekitar pukul setengah 8 pagi saya mendapat sms dari rekan seprofesi saya bahwa kantor dan sekolah diliburkan 2 hari. Oke.

Siangnya saya browsing di internet dan saya menemukan banyak sekali foto-foto berseliweran tentang meletusnya gunung Kelud.
 (Sumber : internet)


Dan ini dokumentasi dari Mas Teguh Wiweko...



Bisa dibayangkan betapa ngerinya yang di tinggal di daerah sana.
Mari kita doakan agar alam yang sedang bergolak ini tidak menimbulkan korban jiwa. Kita hanya bisa pasrah dan berserah.
Jangan anggap bahwa ini azab, anggaplah bahwa alam sedang bersendawa. Pikiran baik akan membawa kita kearah hidup yang baik.
Jangan pernah kita membuat lelucon tentang bencana di negeri ini. Negeri ini kita yang punya. Kita harus saling memiliki, saling menggegam erat, dan saling membantu untuk membawa negeri ini kearah yang positif.

Jika mampu membantu, bantulah dengan apapun yang kau bisa. Materi, tenaga bahkan doa.
Mereka, para korban tak butuh cacianmu tentang azab, tak butuh leluconmu tentang gunung yang sedang kentut.
Mereka hanya butuh bantuan agar kesehatan mereka tetap terjaga. Doa agar mereka bisa kembali kerumah dalam keadaan yang sehat dan berkumpul kembali bersama keluarga mereka yang utuh.

Mari belajar berempati.
Bukan tidak mungkin jika nanti kita akan mendapat giliran yang sama seperti mereka.

#PrayForKelud

(Solo, 17 Pebruari 2014)
.
.
Selamat Siang
.
.
Kapan-kapan Main Lagi ya....
.
.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Feel free to comment... silahkan....