Kamis, 13 Maret 2014

Fanfiction One Ok Rock ; A Pathetic Girl with a Stubborn Boy Chapter IX




A Pathetic Girl with a Stubborn Boy Chapter IX

Author             : Parasarimbi

Genre              : Romantic

Length             : Chapter by Chapter (belum ada rencana sampai chapter berapa)

Cast                 : Manami as Donna

                          Taka

                          Toru

                          Ryota

                          Tomoya

Disclaimer : Cerita punya saya, tapi tokoh bukan punya saya. Fanfiction One Ok Rock ini dibuat hanya untuk koleksi dan kesenangan semata.



~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Manamiiiii.............. maafkan kesalahan Ayah.... maaf kan ayah......” Ayah berteriak histeris sambil memeluk tubuhku.

Aku sangat terkejut saat tiba-tiba Ayah memelukku dengan tangisannya yang memilukan. Berulangkali Ayah meminta maaf atas perbuatan yang dilakukannya dahulu. Aku merasakan betapa Ayah tersiksa dengan kondisi yang dialaminya sekarang.

Beberapa suster berdatangan ke kamar Ayah, karena mendengar kegaduhan disini. Samar-samar aku melihat Taka menjelaskan pada suster-suster itu entah mengatakan apa dan dengan perlahan suster-suster itu meninggalkan kamar Ayah. Dan kini hanya ada aku dan Ayah di ruangan ini karena Taka juga turut meninggalkan kamar Ayah untuk memberikan waktu dan ruang untukku dan Ayah untuk saling berbicara.

Ayah terisak beberapa kali, bahunya berguncang sangat keras. 

“Aku merindukan Ayah... sangat....” Aku berbisik lirih.

“Ayah juga merindukanmu Manami, Ayah sangat rindu padamu...”

“Maafkan aku Ayah karena telah meninggalkan Ayah dan menghadapi semua ini sendirian.”

“Tidak.. tak perlu meminta maaf, Ayah pantas menerima semua. Ayah telah menerima hukuman atas perbuatan Ayah di masa lalu...” Tangisan Ayah makin keras.

Mau tidak mau, tangisan Ayah makin membawaku ke dalam rasa bersalah dan menangis tak kalah keras seperti Ayah. Lama aku dan Ayah saling berpelukan dengan hujan air mata yang membasahi masing-masing pundak kami. Saling melepas rindu dan mencoba mengobati rasa bersalah yang hinggap di hati. 

Aku melepas pundak Ayah,

“Ayah, aku sudah mengetahui semuanya...” Ucapku lirih

“Benarkah?” 

“Benar Ayah... Dan aku sangat yakin bahwa Ayah tidak mungkin menyakiti Ibu.”

“Ayah memang sangat mencintai Ibu, Ayah tak akan mungkin tega membunuh Ibumu. Ayah sangat mencintai Ibumuu...huuuhuuuuu....” Ayah kembali menangis sesenggukan sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

“Tapi Ayah merasa belum lega jika Ibumu belum bisa memaafkan Ayah....”

“Sudahlah Ayah, Ibu sudah tenang disana. Jika Ayah menangis dan menyesali seperti ini Ibu tak mungkin bisa tinggal tenang disana...” aku mencoba tegar dengan menghibur Ayah.
Kuusap-usap dan kutepuk pundak Ayah yang tertutup oleh piyama rumah sakit, mencoba untuk menghiburnya dan mengalihkan rasa sedihnya dengan kata-kata aku sendiri tak pernah merasa sebijak ini. Selama beberapa menit aku dan Ayah saling menguatkan, saling membangun kepercayaan satu sama lain, dan saling mencoba mendekatkan diri.

“Manami...”

“Hmm, iya Ayah?”

“Kemana saja kau 6 tahun ini?” 

Aku hanya tersenyum.

“Aku ditempat yang tak jauh dari sini Ayah..”

“Benarkah? Tapi kenapa kau sangat susah ditemukan?”

“Aku sengaja menutup diri dan  mengubah namaku agar tak ada lagi yang mengingatku,”

“Merubah nama?”

“Donna Okada Benson. Nama nenek dari Ibu..”

Ayah mulai tersenyum.

“Aah... pantas saja susah sekali menemukanmu Nak,”

Aku tersenyum singkat.

“Lalu, apakah kau hidup dengan baik selama 6 tahun ini? ?”

“Seperti yang ayah lihat, aku baik-baik saja kan, justru Ayah yang jatuh sakit.”

“Ayah tidak sakit, ayah hanya merindukan dua malaikat Ayah. Kau dan Ibumu.”

Aku menangkup wajah Ayah dengan kedua telapak tanganku. Menghadapkan wajahnya ke arahku.

“Maukah Ayah dengan tulus memaafkan semua kesalahanku?”

Ayah tersenyum dan meraih tanganku yang ada di wajahnya kemudian tangan kami saling menggenggam erat.

“Tentu. Ayah memaafkanmu Nak, dan maafkan kesalahan Ayah karena telah membuat keluarga kita berantakan.”

“Terimakasih Ayah, aku berjanji akan menjadi putri Ayah yang baik,”

“Ayah juga berjanji akan menjadi Ayah yang lebih baik lagi untukmu, mari kita bersama-sama membangun keluarga kecil kita seperti dulu.”

Aku hanya mengangguk dan satu bulir air mata jatuh kepipi, aku menghambur ke pelukan Ayah. Sangat nyaman rasanya. Kini aku punya seseorang untuk bersandar. Tiba-tiba aku teringat seseorang.

Taka.

Dia terlihat bersama seseorang berbaju putih-putih memasuki ruangan kamar Ayah.

“Maaf bila mengganggu acara kalian, tapi ini saatnya Oku-San minum obat dan beristirahat.”
Aku dan Ayah menoleh ke arah suara. 

“Ohh Fuji Sensei, aku tidak sakit. Lihat.. aku baik-baik saja...” Kata Ayah sambil bergaya seperti binaraga dengan menunjukkan otot-otot lengannya di atas tempat tidurnya.

Aku tersipu malu demikian halnya dengan Taka yang tersenyum simpul sambil memandangku.

Fuji Sensei yang notabene adalah dokter pribadi Ayahku terlihat tercengang melihat perubahan Ayah, wajahnya tampak begitu terkejut.

“Ooh... Oku-San langsung mengenaliku? Kau sudah sembuh?”

Dahi Ayah berkerut.

“Dua puluh lima tahun Fuji Sensei menjadi dokter pribadiku, bagaimana bisa aku melupakan Fuji Sensei... Fuji Sensei yang melupakanku... hahaha” Gurau Ayah sambil tertawa.

Mau tak mau seisi ruangan ikut tertawa.

“Dan satu hal, aku sama sekali tidak sakit. Aku sehat dan lebih dari sehat.” Sahut Ayah.

“Biasanya Oku-San tak pernah mau kuajak berbicara, selalu diam saja. Hahaha. Tapi syukurlah jika Oku-San kembali seperti sedia kala... ohh aku baru sadar.. siapa gadis cantik ini?” Fuji Sensei menunjuk kearahku.

Dengan merangkul pundakku dengan bangga Ayah mengatakan,

“Ini putriku, putri cantikku.”

“Aahhh...” Fuji Sensei hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum kepadaku sepertinya ia paham dengan apa yang terjadi pada kehidupan keluargaku.

Aku membalas senyum Fuji Sensei dan membungkuk kearahnya.

“Baiklah, beberapa menit lagi suster akan memeriksa kondisi Oku-San, aku berharap Oku-San semakin membaik. Permisi..” Fuji-Sensei membungkuk kemudian meninggalkan ruangan.
Kami semua membungkuk mempersilahkan Fuji Sensei untuk kembali melaksanakan tanggung jawabnya yang seorang dokter untuk melakukan tugasnya dengan memeriksa pasien lain.

Tatapan Ayah beralih ke arah Taka.

“Kemarilah nak,”

Ayah merentangkan tangan agar Taka mendekat kearahnya. Taka mulai mendekat ke pinggir tempat tidur dan Ayah merangkul pundaknya.

“Terimakasih karena kau sudah membantu Paman hingga selama ini. Kau lelaki paling hebat yang pernah Paman temui.”

“Paman berlebihan, Aku hanya membantu Paman sekuat tenagaku Paman.”

“Tapi kau memang hebat, Kau tak pernah lelah untuk terus berusaha dan berharap ketika Paman mulai putus asa lima tahun yang lalu.”

"Paman, itu tak seperti yang Paman pikirkan.." Taka mencoba mengelak.

"Tapi jika bukan karena sifat keras kepalamu yang berlebihan mungkin ini semua tidak akan berhasil tanpamu..." Ayah memuji sangat tulus.

Hening sejenak.

“Aku melakukannya karena cinta, Paman...” Jawab Taka diplomatis.

“Cinta? Kau cinta pada Paman? Hahaha ?” 

Ah Ayah selalu saja suka merusak suasana, sama persis seperti kebiasaan Ayah dulu.

“Ah Paman, tentu saja aku masih waras dan tidak mungkin mencintai Paman, hahaha” Taka menahan tawa.

“Lantas kau cinta pada siapa?”

“Tentu saja pada Putri Paman, Manami...”

Hehhhh.... Taka !

Aku tersipu salah tingkah mendengar penuturan Taka. Apa maksudnya mengatakan hal demikian di depan Ayahku. Membuatku malu saja dan tiba-tiba aku jadi teringat acara menginapku di losmen tadi malam. Aku semakin malu dan kepalaku tertunduk.

Ayah menoleh kearahku dan Taka bergantian. 

“Sepertinya kalian memang cocok, bagaimana kalau Ayah jodohkan?”

Ah Ayah mulai lagi... sifatnya sama sekali tak berubah sama seperti dulu.

“Ayahhhhhh..... !” Aku merajuk agar Ayah berhenti menggoda.

Sedangkan Taka hanya tersenyum sambil mengangguk seakan mengatakan,

‘Aku Bersedia Paman’

Sedangkan aku hanya menyilangkan tangan ke dada dan melirik sebal.

Taka menyela, 

"Aku sangat terkejut melihat kondisi Paman yang cepat sekali berubah dengan kehadiran Manami. Tapi aku juga sangat senang jika Paman kembali seperti sedia kala, aku merasa perjuanganku selama bertahun-tahun tidak sia-sia. Aku bahagia sekali Paman...."

"Kemarilah...." Ujar Ayah sambil memeluk Taka dengan pelukan antar lelaki.

"Kau memang andalan Paman, tak ada kata yang bisa melukiskan bagaimana rasa terimakasih Paman untukmu."

"Itu tidak perlu Paman."

"Jangan bicara seperti itu Nak, Hari ini Paman sangat gembira sekali. Jika kau meminta sesuatu kau bisa minta pada Paman, tanpa perlu sungkan..."

Taka hanya terdiam sambil melirik ke arahku sembari berbisik tanpa suara " I want you" Kemudian ia menjawab..
“Bagaimana kalau makan malam? Aku sudah membeli tiga porsi sushi untuk kita bertiga...”

Ayah menyahut cepat.

“Kebetulan Paman lapar sekali, ayo kita makan...”

“Itadakimasu~.....”

"Porsi kenapa kecil sekali, tukar denganku Paman..."

"Tidak bisa, porsi besar untuk orang tua..."

"Hahahahahahahaa"

Ruangan kamar Ayah terlihat begitu hangat. Aku, Ayah dan Taka makan dengan perasaan yang bahagia dan saling bercanda ria. Mereka berdua terlihat sangat akrab dan sudah lama saling mengenal.  Perasaan ini sangat indah dan menyenangkan. Aku seperti mempunyai dua pelindung yang akan selalu menemani hari-hariku dan membimbing langkahku. Dan dua laki-laki ini.... Ayah dan Taka, terlihat sangat berharga dimataku. Ada semacam perasaan yang aku rasakan tidak ingin berjauhan dengan mereka. Hati dan perasaanku seperti telah terikat sesuatu.



~~~~~~~~~~~~~~~

Ruangan rumah sakit di kamar Ayah lumayan bagus, di ruangan ini ada sebuah kulkas kecil, televisi, lemari pakaian dan sofa yang sangat nyaman untuk bisa di jadikan alas tidur. Mungkin sangat cocok untukku tidur malam ini. Namun ternyata Taka sudah tertidur duluan di sofa sesaat setelah kami makan bersama, jadi Aku dan Ayah sengaja tak membangunkannya. Taka pasti sangat lelah sekali.

Sebagai gantinya Aku dan Ayah tidur bersama di ranjang pasien. Tidur dalam pelukan Ayah memang sangat menentramkan hati. Tiba-tiba aku jadi teringat ketika umurku lima tahun, saat itu aku masih sangat manja sekali. Aku tidak ingin tidur jika tidak ditemani Ayah di kamar tidurku saat itu. Dan belum bisa terpejam seutuhnya jika Ayah tak menepuk-nepuk pundakku. Kini serasa aku bernostalgia lagi ke masa umur lima tahun, karena Ayah pun melakukan hal yang sama yaitu menepuk-nepuk pundakku.

Ditengah keheningan Ayah bersuara,

“Ayah sangat rindu Ibumu, maukah menemani Ayah di pemakaman besok pagi?”

“Tentu Ayah, aku sangat mau. aku sama sekali belum pernah melihat makam Ibu. Putri macam apa aku ini...”

“Sssst... sudahlah, jangan dibahas kembali. Itu sudah berlalu. Kita sudah berjanji bukan untuk memperbaikinya?

“Hmmm...” Aku mengangguk.

“Mari kita tidur....”

“Tunggu Ayah...” Sahutku cepat.

“Pelankan suaramu, Taka bisa terbangun...”

“Ah maaf aku tak sengaja,”

“Ada apa?”

“Ayah dan Taka... “

“Apa yang ingin kau tanyakan?”

“Ayah dan Taka sudah lama saling mengenal?”

“Tentu..”

“Bagaimana bisa?”

“Ceritanya sangat panjang, tak akan selesai hingga besok pagi jika tak diceritakan sekarang,”

“Aku sangat ingin tahu siapa Taka sebenarnya Ayah, apakah dia teman di masa laluku? Kenapa aku sama sekali tak mengingatnya?”

“Akan lebih baik kau mengetahuinya dari Taka. Itu jauh lebih baik.”

“Memang ada apa Ayah?”

“Ayah hanya menyarankan lebih baik kau mengetahuinya dari Taka sendiri.”

“Ahh Ayah....”

“Putri Ayah kenapa nakal sekali, ini sudah larut malam, kau sudah berjanji menemani Ayah ke makam Ibu bukan?”

“Ah maaf, aku lupa...”

“Yasudah, pejamkan matamu dan kita tidur...”

“Hmmmm” Aku menggumam kemudian terlelap tidur di pelukan Ayah.

~~~~~~~~~~~~~~~~

Author POV

Seorang lelaki berambut pirang duduk dengan gelisah sambil menimang-nimang ponselnya, raut wajahnya menyiratkan kekhawatiran yang teramat sangat.
“Dimana kalian, ponsel mati dan sama sekali tak ada kabar.”

Author POV end

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Haduh maaf  kalo chapter 9 nya kelamaan. Harap dimaklumi ya mayan sibuk pol-polan di bulan Maret ini. Sebenernya sih udah hampir jadi chapter 9 nya tapi saya selaku author merubah hampir disemua isinya karena dirasa kurang cocok.

Dan setelah beberapa reader yang nagih di twitter berulang kali akhirnya bisa dipost lah chapter 9 nya. Dan mungkin bakalan masih ada chapter-chapter berikutnya yang entah sampe chapter berapa, soalnya emang ceritanya masih panjang. Semoga ga bosen ya ngikutin ff pathetic girl ini. Dan saya boleh dong minta tinggalin komen aja di blog, biar rame & makin semangat nerusin chapter per chapter dan cepet dibikin lanjutannya trus diposting lagi. :D

Dan udah jam 1 lebih baru selesai dan diposting. Oh iya... saya sengaja bikin pic ff biar lebih gimana gitu.. gimana? Bagus ga kelihatannya? Hehehehe.

Akhir kata, saya pamit dulu ya.... sudah menjelang pagi, besok masih lanjut kerja.
.
.
Selamat Menjelang Pagi...
.
.
Kapan-kapan Main Lagi ya....
.
.

4 komentar:

  1. Jadi kangen ayahh. Pengen pulaaangggg..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Buruan pulang, ayah juga kangen loh....

      Hapus
    2. Iya, besook mau pulang mbaa :D haha.

      Hapus
    3. Asiiiiik, bisa kangen-kangenan sama ayah dong :D

      Hapus

Feel free to comment... silahkan....